Ringkasan Berita:
- Perkembangan kecerdasan buatan mengubah persyaratan dunia kerja dari hanya menguasai teknologi menjadi kemampuan memahami masalah dan proses industri.
- Praktisi kecerdasan buatan, Wang Chen, berpendapat bahwa pendidikan vokasi perlu menghubungkan ruang kelas dengan pengalaman nyata di industri agar lulusannya lebih mudah beradaptasi.
- Bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Jawa Timur, HGI berupaya meningkatkan pengembangan bakat digital yang mampu, memiliki wawasan global, dan siap menghadapi perkembangan zaman.
majalahkoran.com, JAKARTA –Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah metode kerja dunia menjadi lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Di tengah perubahan ini, muncul pertanyaan besar bagi dunia pendidikan: apakah cukup memberikan kemampuan kepada generasi muda dalam menggunakan teknologi, atau justru lebih penting adalah kemampuan memahami masalah dan kebutuhan industri yang sebenarnya?
Pertanyaan tersebut menjadi perhatian dalam kerja sama antara HGI Research Centre, lembaga riset dan pengembangan yang berfokus pada teknologi kecerdasan buatan (AI) serta pengembangan sumber daya digital dan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur yang ditandai dengan penandatangananLetter of Intent(LoI) di Shanghai, Tiongkok, beberapa waktu lalu.
Wakil Presiden HGI Research Centre, Wang Chen menyatakan, masa depan pendidikan vokasi tidak lagi bisa dinilai hanya berdasarkan seberapa banyak perangkat atau aplikasi yang dikuasai oleh siswa.
Wang Chen menyatakan bahwa lebih penting lagi adalah bagaimana pendidikan dapat menghubungkan ruang kelas dengan dunia kerja yang senantiasa berubah.
“Pendidikan vokasi tidak hanya mengajarkan penggunaan alat, tetapi juga membantu siswa memahami bagaimana industri beroperasi dan bagaimana proyek dilaksanakan. Dalam era AI, perusahaan tidak lagi hanya mencari orang yang mampu menggunakan AI, tetapi mereka yang bisa memanfaatkannya dengan efisien,” kata Wang Chen dalam kutipannya, Selasa (17/6/2026).
Pernyataan ini mencerminkan perubahan signifikan yang sedang terjadi dalam pasar tenaga kerja global.
Jika sebelumnya keterampilan teknis menjadi ciri utama, kini perusahaan semakin mencari individu yang mampu berpikir analitis, memahami alur bisnis, bekerja sama dalam tim, serta memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan solusi yang nyata.
Teknologi kini lebih mudah diakses berkat AI. Namun, kemampuan untuk memahami konteks, mengidentifikasi kebutuhan sektor industri, serta mengubah teknologi menjadi manfaat nyata bagi perusahaan semakin langka dan sangat dibutuhkan.
Menurut Wang Chen, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya terbatas pada memperkenalkan teknologi terkini kepada siswa, tetapi juga menyediakan pengalaman industri dalam proses pembelajaran.
Dengan pendekatan ini, siswa mampu memahami bagaimana suatu proyek dirancang, dilaksanakan, serta memberikan manfaat bagi dunia bisnis dan masyarakat.
Komitmen ini menjadi dorongan bagi HGI Research Centre untuk membawa proyek, proses kerja, serta standar industri langsung ke dalam kelas. Tujuannya adalah agar lulusan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi secara cepat.
Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur merupakan bagian dari langkah tersebut.
Kedua belah pihak sepakat untuk menjelajahi berbagai inisiatif yang menghubungkan pendidikan dengan kebutuhan sektor industri, mulai dari pengembangan sumber daya digital, penyusunan kurikulum bersama, kerja sama antara sekolah dan dunia usaha, hingga program kolaborasi lintas negara.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menganggap perubahan industri digital akan menjadi salah satu hal yang memengaruhi daya saing wilayah dan bangsa di masa depan.
Menurutnya, penguasaan teknologi harus sejalan dengan kemampuan berkomunikasi, penyesuaian budaya, dan wawasan global agar generasi muda dapat bersaing secara internasional.
“Melalui kerja sama dengan HGI Research Center dan beberapa kampus vokasi terkenal di Shanghai, Jawa Timur berharap mampu menghasilkan generasi muda yang tidak hanya menguasai keterampilan digital terkini, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi serta wawasan global,” katanya.
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian dalam diskusi kerja sama ini adalah program “Chinese + Class Skill”, yaitu pendekatan pembelajaran yang menggabungkan penguasaan bahasa Mandarin dengan keterampilan teknis yang sesuai dengan kebutuhan sektor industri.
Pendekatan ini muncul dari kesadaran bahwa dunia kerja global tidak hanya memerlukan tenaga ahli yang memiliki keterampilan teknis, tetapi juga individu yang mampu berkomunikasi dan bekerja sama secara lintas budaya.
Bahasa, dalam konteks ini, bukan hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi jalan untuk memperluas kesempatan karier dan jaringan global.
Selama berada di Shanghai, delegasi Jawa Timur juga mengunjungi berbagai lembaga pendidikan vokasi guna melihat langsung bagaimana sekolah menciptakan keterkaitan dengan dunia industri. Mereka menyaksikan penerapan kecerdasan buatan, pengembangan animasi dan permainan, media digital, serta pemanfaatan teknologi dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya.
Kunjungan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan masa depan tidak lagi berlangsung secara terpisah dalam ruang kelas. Sekolah, industri, dan teknologi perlu saling terkait agar proses pembelajaran tetap sesuai dengan kebutuhan era saat ini.
Di tengah percepatan perubahan digital, pesan yang disampaikan Wang Chen menjadi pengingat bahwa meskipun AI bisa menggantikan beberapa tugas manusia, kemampuan memahami masalah, beradaptasi, bekerja sama, dan menciptakan solusi tetap menjadi keunggulan yang sulit tergantikan.
Pendidikan vokasi merupakan bentuk pendidikan yang disusun khusus guna memberikan keterampilan dan pengetahuan teknis kepada siswa di bidang tertentu.
Fokus utamanya tidak hanya sekadar memahami teori, tetapi juga mampu menggunakannya langsung dalam kondisi nyata. Tujuan pendidikan vokasi adalah agar lulusannya siap bekerja sejak hari pertama, dengan kemampuan khusus yang dibutuhkan oleh dunia industri.
Pendekatan pembelajaran vokasional lebih menekankan prinsip belajar melalui tindakan nyata, di mana kamu akan memperoleh pengetahuan dengan melakukan praktik langsung di laboratorium, bengkel, atau lingkungan industri yang sesungguhnya.
Program pendidikan vokasional tersedia di berbagai tingkatan, antara lain:
- SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) – tingkat menengah yang mengarahkan lulusannya untuk langsung terjun ke dunia kerja.
- Institut Teknologi – lembaga pendidikan vokasi yang berfokus pada pendekatan nyata berbasis teknologi dan dunia kerja.
- Akademi Komunitas – pendidikan tinggi vokasional berdurasi dua tahun yang fokus pada keterampilan lokal serta wirausaha.
- Lembaga Pelatihan Industri – pusat pelatihan teknis yang berorientasi pada penguasaan keterampilan industri tertentu.
Potret Pendidikan Vokasi SMK
SMK dibentuk dengan tujuan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang siap bekerja dan diharapkan menjadi solusi untuk permasalahan pengangguran. Namun kenyataannya, lulusan SMK kini justru menjadi salah satu penyumbang terbesar angka pengangguran di Indonesia.
Meskipun SMK merupakan bagian dari pendidikan vokasi tingkat menengah, yang bertujuan untuk melatih siswanya agar memiliki keterampilan nyata, keahlian teknis, serta siap bekerja langsung di dunia industri.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia menunjukkan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi sumber utama angka pengangguran di Tanah Air.
Hal ini terlihat dari data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berdasarkan karakteristik pada periode Februari 2024 hingga Februari 2026.
Pada bulan Februari 2026, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan tingkat pengangguran di kalangan lulusan SMK mencapai 7,74 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tingkat pengangguran lulusan SMA yang berada pada 6,23 persen.
Persentase pengangguran lulusan SMK tetap lebih besar dibandingkan tingkat pengangguran dengan pendidikan Diploma sebesar 4,80 persen dan pendidikan Sarjana sebesar 6,13 persen.







